Senin, 24 Oktober 2011

Mutiara Kata


“Nafsu mengatakan wanita cantik dari rupanya, akal mengatakan wanita cantik atas dasar ilmu dan kepandaiannya, dan hati mengatakan wanita cantik atas dasar akhlaknya.”

“Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.”

“Sahabat yang baik adalah orang yang berkata benar, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata.”

“Wanita yang cantik tanpa pribadi yang mulia, seperti kacamata yang bersinar-sinar tetapi tidak melihat apa-apa.”

“Tanda orang yang bijaksana adalah hatinya selalu berniat suci, lidahnya selalu basah dengan zikrullah, matanya menangis karena penyesalan (terhadap dosa), sabar terhadap perkara yang dihadapi dan mengutamakan akhirat berbanding dunia.”

“Wanita diciptakan bukan dari tulang rusuk atas untuk memerintah, bukan juga dari ruduk bawah untuk diinjak, tetapi dari tulang rusukyang terletak di bagian dada dekat dengan tang.dengan maksud tangan yang membelah dan hati yang punya kasih sayang dan perasaan.”

“Hiduplah seperti lilin yang menerangi orang lain,janganlah hidup seperti duri mencucuk diri dan menyakiti orang lain.”

“Fikirkanlah hal-hal yang paling hebat, dan engkau akan menjadi terhebat. Tetapkan akal pada hal tertinggi, dan engkau akan mencapai yang tertinggi. Masa depan itu dibeli oleh masa sekarang. (Samuel Johnson)”


Kamis, 20 Oktober 2011

perkenalan sebenarnya

Assalamu'alaikum wr.wb
hehe
judulnya aneh ya?
aku beri judul perkenalan sebenarnya karena di posting sebelumnya aku belum perkenalan, karena ada something wrong
dimulai yaaa...
Namaku Rizna Fauzia Ratna Dewi, nama yang menurutku panjaaaang, jadi susah kalau nulis nama pas ujian yang pakai LJK..
tapi kalian bisa memanggilku Rizna, Nina, Ninut, Riznut, Mb' Na, atau Nut (banyak juga ya, tinggal milih)
Alamat rumahku  Selobendo,Banyudono, Dukun, Magelang
aku tinggal bersama bapak, ibu, mbak sama adik
aku sekolah di SMA Negeri 1 Muntilan
aku terdampar di kelas XI IPA 4
absen 25
apa lagi????

udah dulu ah, berhubung aku postingnya di warnet ma sekarang udah sore< dah di tunggu bapak ma adik di luar jadi
Wassalamu'alaiku wr.wb

Gara-Gara Sapu Tangan

Di bawah pohon beringin yang sangat rindang, Nana membuka kembali tabir kenangan pahit dalam ingatannya. Di sinilah ia selalu menghabiskan waktu luang bersama sahabat karibnya, meninggalkan segala kesibukan yang terjadi di Kota Muntilan. Bercanda, belajar, dan membaca buku yang baru saja mereka pinjam di Perpustakaan Daerah Kabupaten Magelang, yang letaknya hanya bersebelahan dengan pohon tersebut. 
Dewi. Manis! Nama itu, semanis orangnya. Dialah sahabat karib Nana yang selalu ada di dalam ingatannya. Sudah lima tahun mereka saling mengenal. Kegembiraan dan kesedihan hidup di masa remaja mereka lalui bersama. Tetapi, semuanya tinggal kenangan. Nana kehilangan sahabat karib yang tidak akan pernah ia dapatkan gantinya. 
Kini, Nana duduk termenung di bawah pohon beringin itu. Suasananya sangat sunyi, tidak ada lagi celotehan Dewi yang nyaring di telinga Nana. Yang terlintas di hadapannya saat ini hanyalah bayangan mereka berdua yang sedang membaca buku diselingi dengan tawa yang riang tanpa beban. Suasana yang sunyi membawa ingatannya melayang pada peristiwa yang terjadi enam bulan yang lalu. 
Braaakk...!
Meja kantin itu dihentakkannya dengan kuat hingga Dewi yang sedang memasukkan potongan bakso terakhir ke dalam mulutnya menjadi terkejut, hampir saja bakso itu tertelan. Nana dengan mukanya yang kemerah-merahan, bertambah merah karena marah. 
”Ada apa sih, Na?”
”Aku tidak mau kamu menggantinya! Sapu tangan itu sangat berharga bagiku!” Nana memarahi Dewi. 
”Selama kamu belum menemukan sapu tangan itu, selama itu juga aku tidak akan berbicara dengan mu!” jelas Nana.
Nana meninggalkan Dewi yang masih sedih dan terkejut, dengan kemarahan yang meluap-luap. Dewi hanya terdiam di tempat duduknya.
”Apakah begitu berharganya sapu tangan itu, sampai Nana tega membentak dan meninggalkanku? Bukankah sapu tangan itu pemberian dariku?” bisik Dewi pada dirinya sendiri.
”Ah sudahlah, itu memang kesalahanku. Tak kusangka sapu tangan itu begitu berharga bagi Nana. Aku harus segera mencarinya sampai ketemu dan memberikannya pada Nana, mungkin itu dapat mengembalikan hubungan kami seperti dulu lagi.” putus Dewi.
Setelah merasa lebih baik, ia berjalan meninggalkan kantin sekolah. Tatapan heran dan simpati anak-anak yang sedang berada di kantin sekolah mengikuti setiap langkah Dewi meninggalkan kantin. Tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang baru saja terjadi.
”Dasar! Begitu pelupanya aku, sampai sapu tangan sahabatku saja aku bisa lupa menaruhnya. Aku benar-benar tidak ingat dimana terakhir kali aku membawanya. Kalau seperti ini, aku harus mulai mencari dari mana?”
Di waktu yang sama, Nana sedang duduk sendirian di dalam kelas, merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Nana tahu Dewi merasa sedih mendengar kata-kata yang ia ucapkan tadi. Nana tidak berniat untuk melukai hatinya. Tetapi, saat itu ia terlalu marah dan tanpa dia sadari telah mengucapkan kata-kata kasar kepada Dewi. ”Maafkan aku Dewi, aku nggak bermaksud kasar sama kamu. Tadi aku nggak bisa mengendalikan emosiku. Maafkan aku Dewi.”
Semenjak pertengkaran mereka itu, Nana selalu sendiri dan menjadi anak yang pendiam. Karena hanya Dewi yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Di mana pun ada Nana di situ pasti ada Dewi. ”Eh, gitar dan senarnya datang,” gurau teman-teman saat mereka sedang bersama. Gitar yang selalu membutuhkan senar untuk dapat melantunkan melodi-melodi yang indah dan senar yang membutuhkan gitar sebagai tempat saat dia ingin mengeluarkan sebuah melodi yang indah. Oleh karena itu, Nana tidak begitu akrab dengan teman-teman yang sekelas dengannya selain Dewi. Teman-teman yang melihat Nana selalu sendirian akhir-akhir ini, merasa heran karena mereka belum pernah melihat sepasang sahabat itu bertengkar atau tidak saling bertegur sapa. 
”Hai Na, Dewi kemana sihKok sekarang aku jarang melihatnya bersamamu?” tanya salah satu teman sekelas Nana. Pertanyaan itu hanya dijawabnya dengan gelengan dan raut muka murung. Nana bingung harus menjawab apa.
Hari-hari dilalui Nana dengan hambar. Satu hari bagaikan satu tahun bagi Nana. Begitu lama dan sangat membosankan, karena tidak ada lelucon-lelucon yang dibuat oleh Dewi yang dapat mengocok perut dan dapat menghiburnya saat ia sedih. Hampir tidak pernah Nana merasa sedih saat berada bersama Dewi. Namun, sekarang hidupnya terasa hampa tanpa Dewi di sisinya. Selain itu, Nana harus berjalan kaki sendirian saat pulang sekolah, rasanya jalan yang ia lalui terasa lebih panjang dan melelahkan. Tanpa adanya seorang sahabat yang menemaninya di perjalanan.
Panik, resah, dan cemas, itulah yang dirasakan Nana akhir-akhir ini, karena sudah beberapa hari ini Dewi tidak berangkat ke sekolah. Seharian itu pikiran Nana sedang tidak berada dalam tubuhnya lagi, melayang entah kemana, sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi dengan pelajaran yang diajarkan pada hari itu.
”Sudah tiga hari Dewi tidak berangkat sekolah. Apakah dia sakit? Apa yang terjadi dengan dirinya?” gumam Nana semakin gelisah. Pikirannya diganggu oleh beribu-ribu pertanyaan. Perasaannya berkecamuk antara ingin mengikuti kata hatinya untuk menjenguk dan melihat keadaan sahabatnya atau mengikuti pikirannya untuk tidak menjenguk sahabatnya karena gengsi. ”Eh, aku akan pergi ke rumahnya sajalah,” bisik Nana. Tetapi, niatnya terhenti di situ, dia merasa segan karena rasa gengsi dan malu masih menyelimuti pikirannya. 
Riing…! Riiing…! Riiiing…! 
Telepon rumah berdering nyaring, membuyarkan dialog yang berlangsung antara otak dan hatinya. Ibu yang sedang berada di dapur bergegas mengangkat telepon. Raut wajahnya berubah menjadi tegang, tiba-tiba ia berteriak.
”Na! Oh Nana,” teriak Ibu.
”Cepat! Ganti baju! Kita pergi ke rumah Dewi, ada sesuatu yang terjadi. Bayu baru saja telepon, kita harus pergi ke rumahnya dengan segera,” suara ibu tergesa-gesa menyuruh anak perempuannya untuk cepat bersiap-siap. Tiba-tiba jantung Nana berdetak cepat. Tidak pernah ia merasa seperti itu. Perasaannya menjadi tidak enak. Pasti ada hal buruk yang sedang terjadi.
”Ya Allah, tentramkanlah hatiku. Apapun yang terjadi, ini semua adalah ujian-Mu. Aku mohon, jauhkanlah hal-hal yang buruk terjadi. Lindungilah sahabatku.” Nana berdoa kepada Allah sepanjang perjalanan ke rumah Dewi.
Setibanya di rumah Dewi, ia disambut oleh Bayu, kakak Dewi yang tadi menelepon. Nana yang masih bingung oleh beribu-ribu pertanyaan di otaknya diajak menuju tempat duduk Bu Astuti, ibu Dewi.
”Apa yang telah terjadi pada Dewi? Mengapa ada banyak orang di sini? Mengapa mereka memakai baju hitam, Bu? Apakah Dewi…” Nana tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. 
”Sudah, sudah Na…” kata Bu Astuti dengan raut muka yang bertambah sedih, ia memberitahu Nana apa yang telah terjadi pada sahabat karibnya itu.
”Dia memang sedang tidak sehat tadi pagi, tetapi dia memaksa untuk tetap pergi ke sekolah. Katanya ingin bertemu denganmu, tetapi keinginanannya tidak terlaksana. Dewi tertabrak bis saat menyebrang jalan di dekat sekolah. Sampai di saat dia menghembuskan nafas terakhirnya, Bayu yang berada di sisinya melihat amplop surat ini masih berada di dalam genggamannya,”cerita Bu Astuti sambil memberikan amplop surat yang sangat ingin Dewi berikan kepada Ratna. Dengan pelan-pelan dibukanya amplop surat itu.
Di dalam amplop surat itu, terdapat surat tulisan tangan Dewi dan sapu tangan kesukaannya. Di bacanya surat itu dengan hati yang bergemuruh.
Ratna Anggraeni,
Aku minta maaf telah membuat kamu marah, karena aku telah menghilangkan sapu tangan kesayanganmu. Setelah kamu memarahiku, aku nekat pulang dari sekolah saat hujan lebat, karena ingin segera mencari sapu tanganmu. Di rumah, aku tidak menemukannya. Tetapi, aku tidak putus asa dan mencoba mengingat-ingatnya, aku ingat sapu tangan itu tertinggal di meja perpustakaan. Itupun agak terlambat karena badanku sedang tidak sehat, tetapi dengan bantuan Ifah, Alhamdulillah sapu tanganmu dapat ditemukan. Sapu tangan itu dia temukan di bawah meja perpustakaan tempatmu membaca. Terima kasih karena telah menghargai pemberianku dan persahabatan yang telah terjalin diantara kita. Terima kasih sekali lagi, karena selama ini telah mengajariku tentang arti persahabatan.
Peluk & cium,
Dewi Ambarsari
Pelupuk mata Nana dipenuhi dengan mutiara jernih, yang akhirnya jatuh berlinangan di pipinya. Kalau boleh, dia ingin meraung dan berteriak memanggil nama sahabatnya itu, dan memeluk erat tubuhnya untuk meminta maaf. Ingin rasanya ia memutar waktu untuk mengulang kejadian di kantin sekolah saat itu dan mengatakan kepada Dewi bahwa tidak masalah kalau sapu tangannya hilang, asalkan dia tidak akan pernah kehilangan Dewi dan tetap menjadi sepasang sahabat. Tetapi, apa daya, semuanya sudah terlambat. Dewi sekarang sudah tiada dan mayatnya sekarang masih berada di rumah sakit untuk menjalani otopsi
”Ibu… Dewi Bu, Ratna yang menyebabkan Dewi meninggal, ini semua salah Ratna, Bu...” kata Nana pada ibunya. ”Kalau saja waktu itu Nana tidak memarahi Dewi, mungkin Dewi sekarang masih ada di sini, kalau saja Nana…” Akhirnya tangisan yang sejak tadi ia tahan pun pecah.
”Sudahlah Na, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir bagi Dewi.” hibur Bu Astuti.
Tiba-tiba sambaran petir membuyarkan lamunan Nana. Barulah dia sadar bahwa dia hanya mengenang kisah masa lalu. Kisah yang tidak akan mungkin terulang lagi. Kisah yang telah memberinya pelajaran yang sangat berharga tentang arti sebuah persahabatan. Digenggamnya surat dari Dewi, surat yang menjadi saksi atas perjuangan Dewi sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Surat itu tidak akan ia buang dan akan selalu ia simpan bersama foto-foto kenangan manisnya bersama Dewi.
Titik-titik air mulai jatuh membasahi tubuhnya, bercampur dengan air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya. Nana tidak kuat lagi beranjak dari tempat itu. Tubuhnya lemas akibat terlalu lama menangis, ia membiarkan air hujan membasahi badan dan seragam berlogo SMA Negeri 1 Muntilan yang masih ia pakai. Rasa bersalahnya kepada Dewi yang belum hilang, menambah hidupnya semakin terpuruk. Dia juga masih sering menyalahkan dirinya atas kematian Dewi.
”Ah, Dewi, mengapa jalan hidupmu hanya sesingkat itu? Ingatkah dirimu tentang janji kita untuk melanjutkan ke fakultas kedokteran bersama-sama? Maafkan aku Dewi, hidup dan masa depanmu terenggut gara-gara keegoisanku,.” keluh Nana saat masih berada di bawah pohon beringin itu.
Sekarang dia menyadari bahwa persahabatan mereka lebih berharga daripada sapu tangan itu. Nana benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji tidak akan membiarkan peristiwa itu terulang lagi. Sejak saat itu, Nana menjadi lebih rajin beribadah, dan berdoa untuk sahabatnya, ia juga pergi berziarah ke makam Dewi. Hanya dengan cara ini saja yang dapat Nana lakukan untuk membalas jasa Dewi. Semoga dengan Kuasa Allah, Dewi akan bahagia di alam barzah. 
***